ANTARA AKU, KAU DAN AL-QUR’AN Bag. 02

Siang itu, rasa jenuh menyerang diriku saat sedang mengaji. Aku berdiri diteras Masjid, lalu memperhatikan keadaan sekolah dengan bersandar pagar yang setinggi dada. Pintu masuk Masjid ini, tepat berada di depan lapangan upacara, dan berhadapan langsung dengan kelas di depannya. Banyak santriwan dan santriwati berlalu lalang, bermain dan bercerita. Dari permainan yang dilakukan diam- diam seperti sembunyi lidi, sampai permainan kelompok seperti bola Volly. Sekolah sedang jam istirahat.

Seperti laki- laki pada umumnya, yang senang menjahili wanita jika sedang lewat. Seperti itulah aku saat ini. Bermain- main jika ada santriwati yang  tak sengaja melintas di depanku. Aku memandang sekitar, menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa rambutku. Pandanganku terpaku. Saat aku melihat seorang wanita yang  tersenyum lebar sedang bermain dengan teman- temannya. Senyuman yang bisa membuatku mematung seketika. Senyum manis, yang langsung menyentuh hatiku.

Sebelum lanjut, Baca dulu Part 01 ==> ANTARA AKU, KAU DAN AL-QUR’AN

Harusnya. Harusnya saat itu aku sadar, bahwa senyum manis seorang wanita adalah jebakan setan. Tapi apalah daya, aku benar- benar sudah terjerumus ke dalamnya. Saat liburan tiba, jariku asik menekan huruf- huruf di layar Handphone, mencari akun sosmed nya yang sebelumnya sudah aku tanyakan kepada teman terdekatnya. Jariku tak bisa kutahan untuk memberi chat kepadanya. Awalnya tak ada respon. Namun setan terus merayuku untuk memberikan chat- chat manis penuh perhatian. Hingga akhirnya, ia memberikan balasan, yang bermakna bahwa ia juga sedang membuka hatinya. Tentunya aku sangat senang karen ada respon dari wanita yang kusuka.

Saat kembali ke pondok pun, aku selalu mencuri- curi pandang ketika melihat atau tak sengaja bertemu dengannya.  Sengaja lewat di depan kelasnya saat sedang muroja’ah agar ia mendengarnya. Sungguh, saat itu aku benar- benar sedang asyik berada dijebakan setan yang sangat nyata.

                                                            >>oOo<<

“Astaghfirullah.” Aku terkejut, mengusap muka yang tak sengaja tertidur saat mengaji, lalu kembali ber- istighfar.

“Kenapa Zhil?” Anto yang sedang mengaji ikut terkejut.

“Enggak, gak apa- apa, Cuma mimpi buruk,”jawabku, kemudian meregangkan badan yang keram akibat tertidur duduk.

“Gak takut dipanggil Ustad, gara- gara tidur lagi?” Anto mengingatkan. Aku hanya melihatnya sebentar lalu melaluinya dan pergi ke tempat wudhu.

Aku menoleh ke arah timur. Ke arah kelas Tya berada. Tempat wudhu masjid ini tak memiliki tembok penghalang, dan kiblat masjid ini menghadap ke arah barat. Tempat wudhunya tepat berada di samping masjid. Sehingga terlihat dengan jelas jika berada di arah timur.

Aku melihat sosok Tya yang sedang bermain dengan teman- temannya. Bahkan, di siang yang terik seperti ini pun, ia masih terlihat sangat cantik. Astaghfirullah, jaga mata Zhil! Aku membuka keran air dan membasuh muka. Kembali ber- istighfar saat mengingat kenangan- kenangan lama, yang sempat singgah di mimpi. Kenangan yang membuatku terjebak dengan perasaan sendiri.

“Sudah baikan?” tanya Anto, ketika melihatku kembali masuk kedalam masjid.

“Yah..begitulah,” jawabku seadanya, dan kembali mengambil Qur’an yang sempat kusimpan dilemari tadi.

Aku kembali mengaji, mengulang- ulang bacaan yang akan aku setor nanti. Ku buka, ku tutup. Ku buka, ku tutup Qur’an berkali- kali. Setiap kali ku menutup Qur’an, selalu ku ber- istighfar di dalam hati. Karena bayangan Tya yang selalu singgah.

Ternyata, gerakan kegelisahan ku yang sedari tadi membuka tutup Qur’an, tertangkap engan Mata Anto. Sehingga ia sedikit khawatir dan bertanya tentang keadaanku.

“Kenapa sih Zhil? Dari tadi buka tutup Qur’an terus, kaya gelisah banget,” tanyanya, disertai dengan nada perasaan dan khawatir.

“Enggak, gak apa- apa,” jawabku. Agak malu untuk meceritakan alasan kegelisahanku.

“Gara- gara Tya?” tebaknya.Aku melihatnya, lalu mengangguk.Tak lama kemudian menggeleng, menghela nafas berat.

“Sebenarnya bukan gara- gara Tya, tapi gara- gara aku sendiri yang gak bisa berhenti mikirin dia,itu yang bikin hafalanku selama ini lambat terus,” jelasku. Aku pikir Anto tidak akan mengolok- olokku. Ia pasti mengerti apa yang kurasakan saat ini. Anto terlihat menghela nafas.

“Pernah di langitkan?”tanya Anto.

Aku mengerutkan dahi, otakku tak bisa berfikir jernih, “maksudnya?”

Anto berdecak, “kamu pernah minta solusi dari masalahmu ini sama Allah? Pernah curhat gak?” jelasnya, terlihat sebal.

Aku ber- ohh ria, mengangguk- angguk seakan faham dengan penjelasan Anto. Berfikir sejenak.Ya, aku memang tak pernah meminta solusi dari masalahku ini kepada Allah. Pantas rasanya aku sangat buntu saat berusaha mencari solusi dari masalah ini. Sepertinya Allah marah kepadaku, karena aku tak meminta kepada-Nya.

Malam itu, di sepertiga malam, setelah berwudhu, aku menuju Masjid yang tak jauh dari asramaku. Menggelar sajadah dan mulai bermunajat kepada Allah. Aku sampai rela tidur duduk agar bisa bangun tepat waktu.

Kugelar sajadah. Menguatkan niat di dalam hati. Bismillah.Saat dahi ini menyentuh halusnya sajadah berwarna merah mengilap, yang ditengahnya terdapat gambar kiblat umat muslim seluruh dunia yang berwarna keemasan. Seketika jantungku berdegup kencang. Sosok Tya yang sedang tersenyum dengan senyum manisnya, dan juga bayangan Al- Qur’an yang sedang tebuka di halaman yang paling susah kuhafal, melintas difikiranku secara bersamaan. Tiba- tiba tenggorokanku tercekat, dadaku sesak, perutku rasanya mual dan kakiku terasa dingin setengah mati. Cepat- cepat ku akhiri sujudku dengan salam. Setelahnya, aku berdzikir sebentar, lalu menengadahkan tangan, berdo’a kepada Allah.

“Ya Allah,” suaraku parau, gemetar.

“Ya Allah…”aku menunduk

“Ya Allah….” Hanya kalimat itu yang mampu aku keluarkan.Lihatlah, betapa berdosanya hamba Allah ini.Bahkan meminta saran dan mencurahkan isi hati kepada Allah saja aku malu.

“Ya Allah, apa yang harus kulakukan,” ucapku seketika.

Setelahnya aku tertidur di atas sajadahku.Namun tak ada sedikit pun petunjuk yang singgah di mimpiku.

Malam berikutnya, kucoba lagi untuk sholat. Sholat di malam kedua kutambah dengan sholat tahajud dan sholat taubat. Masing- masing dua rakaat. Kuteguhkan hati agar tak tertidur saat sujud terakhir. Nyatanya, lolos. Aku tak kuat menahan kantuk yang menyerangku. Akhirnya, aku berwudhu kembali karena tertidur ketika sujud terakhir.

Sholat- sholat di malam berikutnya, aku tak semangat seperti saat sholat di malam pertama ataupun kedua. Tak ada hasil yang kudapat. Aku hampir menyerah, namun kuteguhkan hati agar tak berhenti meminta. Karena sering sholat malam beberapa hari terakhir, aku jadi tak pernah tertidur lagi disaat sujud terakhir.

Hingga di malam ketujuh, tepat malam jum’at. Langit hari itu cerah karena bulan. Setelah shalat, aku putuskan tak beranjak terlebih dahulu. Kuperbanyak ber- istighfar dan bertafakkur. Aku mengingat kejadian beberapa hari terakhir. Pembimbingku tak pernah lagi membentak dan menyuruhku berdiri ketika setoran.

Ya! Tak pernah. Bukan karena lelah dengan tingkah nakalku, melainkan aku yang sudah lancer mengingat hafalanku disaat setoran. Bukan hanya itu, aku juga jadisemakin rajin untuk pergi ke Masjid. Dan yang paling membuatku heran, aku tak lagi khawatir atau cemas karena Tya. Ada, ada apa ini? Mungkinkah Allah memberiku jalan bukan lewat mimpi. Melainkan perubahan yang terjadi pada diri sendiri? Wallahu a’lam.

>>oOo<<

“Ni’mal maulaa wani’mannashiir,” aku menghela nafas, mengakhiri setoranku.Aku berhasil menyetor ziadahku sebanyak tiga halaman dalam waktu tujuh menit.Tantangan yang sempat diberikan pembimbingku. Alhamdulillah.

“Tumben Zhil, beberapa hari ini hafalanmu lancar terus,” ujar pembimbingku. Aku hanya tersenyum.

Setelah menerima saran dari Anto, untuk membawa masalahku ini kepada Allah, aku merasa lebih lega. Tak ada lagi beban yang  berkecamuk dalam fikiranku. Tak berat lagi hatiku untuk menerima hafalan masuk.Semua lancar.

Jika kalian berfikir, aku telah berhasil melupakan Tya. Ha..ha..ha.

Kalian semua salah. Tak mudah melupakan seseorang yang sudah lama bermukim di hati. Tak mudah, apalagi jika hidup di dalam satu lingkungan yang sama sepertiku saat ini.

Tak ingin dilihat terkadang ia muncul sendiri. Ketika penglihatan berhasil fokus, terkadang malah pendengaran yang tak sengaja, mendengar gelak tawanya. Malah, terkadang derap kakinya yang sedanng berlari- lari kecil, terdengar ketika sedang melintas.

Belum hilang, perasaanku belum hilang dari Tya. Selalu aku berusaha untuk melupakannya, namun hati menolak keras untuk lupa. Wajahnya selalu muncul walau tak diminta. Hati bisa apa? Hati tak pernah bisa dibohongi jika menyangkut tentang perasaan.

Jadi kubiarkan saja perasaan ini mengalir. Tak kutahan, maupun kubendung namun tak juga aku tambah.

Walaupun begitu, aku akan selalu berusaha untuk melupakannya. Aku akan selalu menjaga batasan. Aku akan lebih sering melakukan hal- hal baik untuk menutupi kekurangan. Jika tiba-  tiba rasa rindu untuk bertemu menyerang. Maka akan aku luapkan di sepertiga malam. Tak akan kubiarkan, dosa- dosa masa laluku kembali menggerogotiku. Yang kulakukan selama ini dengan alih- alih cinta kepada Tya, semuanya dosa. Mulai dari memberi chat- chat mesra penuh perhatian. Mengajaknya berbicara berdua jika sedang marah. Astaghfirullah. Mengingatnya saja membuatku malu.

Walaupun dalam hati kecil Niat untuk hidup bersamanya Suatu saat nanti, Belum Pudar.

Maka prioritasku sekarang adalah berusaha menjadi lebih baik dari hari- hari sebelumnya. Akan aku tinggalkan sifat- sifat dan kenangan- kenangan burukku. Karena jika seseorang berusaha menjadi lebih baik, maka perbuatan- perbuatan baik akan senantiasa mengikuti.

Baca Juga ===> Hargai Selagi Ada..

183 views
TAG


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *