ANTARA AKU, KAU DAN AL-QUR’AN

Aku memandang dengan seksama, sosok tinggi semampai yang jalan di tengah lapangan. Sedang tersenyum dengan orang di sebelahnya. Hatiku kembali berdesir, memandang sosok berseragam putih abu- abu tersebut. Aku tersenyum tipis dan terus memandangnya. Tiba- tiba terbesit rasa takut kehilangan jika suatu saat terpisah dengannya.

Kira- kira sudah dua tahun kupertahankan hubungan yang dilarang oleh aturan pondok ini. Menurutku hal itu tak apa, toh aku mempertahankan hubungan ini karena suatu saat akan menghalalkannya, jadi menurutku sah- sah saja.

Aku melangkahkan kaki, menuju masjid untuk mulai mengaji. Aku membuka juz 5 halaman 12, kembali murojaah halaman yang sempat ku  setor tadi. Lancar, hanya ada satu dua kali yang tersendat. Tiba- tiba sekelebat bayangan Tya, wanita yang kucintai, kembali melintas di kepalaku. Aku berusaha tetap focus dan tetap mengaji. Namun, kesalahan terus kuulangi beberapa kali.

“ Kayanya aku butuh istirahat sebentar,” ucapku, meletakkan Al-Qur’an di atas lemari, lalu berjalan- jalan mencari udara segar.

Entah mengapa, kaki ini rasanya seperti tak terkontrol dan tak terkendali. Pikiran ini rasanya sempat terhenti sesaat, dan ketika sadar tiba- tiba aku sudah berada di depan kelas Tya. Teman- temannya banyak yang sedang bermain di depan kelas. Beberapa adik kelas laki- laki menegurku. Aku tersenyum, namun pandanganku tetap mencari- cari keberadaan Tya.

“Tya mana?” Refleks, pertanyaan itulah yang keluar dari mulutku.

Baca Juga ===> Hargai Selagi Ada..

============> Smartphone : Berkah atau Musibah??

Teman- temannya yang sedang berada di luar kelas, yang tau hubunganku dengan Tya hanya tersenyum miring dan menunjuk ke dalam kelas. Saat aku masuk, kulihat Tya sedang membaca buku milik perpustakaan. Ia duduk dikursinya, terlihat sangat fokus, dan cantik. Ia tidak sendiri, namun teman- temannya sibuk dengan kegiatan mereka masing- masing, sehingga tak memperhatikan kedatanganku.

“Ngapain Dek?” Tegurku berbasa- basi. Kulihat, ia sedikit terkejut dengan kedatanganku, menoleh kekanan dan kekiri lalu menggeleng pelan.

“Baca buku,”jawabnya, aku mengangguk- angguk. Ia melihatku sekilas, “Mas ngapain disini?” tanyanya padaku. Aku mengendipkan bahu.

“Pengen aja, emang gak boleh?”  Jawabku, ia melirikku sekilas lalu lanjut membaca buku. Sikap acuh tak acuh nya- lah yang membuatku semakin menyukainya.

“Dek, kamu masih cemburu soal yang kemarin?” Tanyaku balik, ia mendelik, wajahnya terlihat cemberut.

“Iya, aku gak suka lihat sampean deket- deket sama cewek itu,” ungkapnya. Aku tersenyum simpul dan berjanji kepadanya untuk tidak mengulanginya lagi.

 Aku terus tersenyum, sampai malam pun aku tetap tersenyum jika mengingat wajahnya. Sampai- sampai aku tak sadar bahwa sedari tadi, Qur’an hanya kupegang tanpa kubaca, dan halaman selanjutnya dari hafalanku belum juga aku hafal.

================

“NYETOR!!” teriak pembimbingku, aku yang dari siang hanya menghayal, sangat susah menambah hafalan karena panik, mengeluh dalam hati, ‘YA ALLAH!!’

“Cepat!!” teriak beliau kembali. Aku terus mengulang- ngulang bacaan Qur’anku saat mendengar teriakan beliau, namun hafalan ini tak juga bisa melekat di pikiranku.

Akhirnya, ada beberapa santriwati yang maju untuk menyetor ziadah, dan bisa sedikit meredam kemarahan pembimbingku.  Aku terus mengulang- ulangi bacaan Qur’anku, sekelebat bayangan Tya pun, terus muncul dalam ingatanku.

“Masa dari tadi yang nyetor santri putri, mana ini santri putra?!” Suara baritonnya mampu menembus gendang telingaku, dan perkataannya mampu menembus ulu hatiku. Sebagai perwakilan santri putra yang paling tua aku tidak ingin direndahkan secara tak langsung seperti itu.

Sebenarnya aku tak yakin jika ziadahku telah benar- benar lancara kuhafal. Namun, aku yakin pasti ada ilmu laduni yang diberikan oleh Allah karena sedari tadi aku terus berusaha dan tidak berhenti untuk mengaji, walaupun dalam keadaan terdesak seperti tadi.

Aku berjalan mendekat kearah pembimbingku. Baru dua ayat yang kubaca, tiba- tiba lidah ini terasa kelu, dan semua hafalan hilang dari ingatanku. Aku terdiam. Tatapan pembimbingku sinis. Lama  beliau menunggu hingga berdehem beberapa kali. Aku meneguk ludah secara kasar. Beberapa kali pula pembimbingku memberiku klu untuk ayat selanjutnya, namun tak juga aku mengingatnya. Ingin rasanya aku mengangkat suara dan berkata bahwa aku akan kembali lagi nanti. Namun, jangankan untuk berbicara, mengangkat kepala untuk melihat wajah beliau pun sangat terasa berat sekali.

“Berdiri,” Perintahnya, pelan tapi menusuk. Aku mendongak, menatap beliau dengan tatapan “yang benar saja?”

“Berdiri!!” Perintahnya kembali.

Lama aku terdiam ditempatku. Mushollla tempat menyetor pun hening seketika. Aku memang bukanlah orang pertama yang diminta untuk  berdiri saat setoran tak tembus. Tapi, ini kali pertama aku diminta untuk berdiri.

“Zhil, berdiri saja,” bisik Anto, teman seperjuanganku.

Aku menghela nafas, sangat enggan rasanya. Karena selama ini orang- orang melihatku sangat dekat dengan pembimbingku, jika sudah seperti ini, lantas bagaimana?

Aku kembali menghela nafas, dan berdiri seraya menahan malu kurang lebih selama satu jam, hingga pembimbingku keluar dari Musholla. Ingin sekali rasanya aku berteriak. Tapi hal itu tak mungkin aku lakukan.

================

 Setelah kejadian malam itu. Hari- hari selanjutnya tak sekali dua kali lagi aku berdiri. Entah ada apa pada diriku. Baik ziadah maupun muroja’ah, aku pasti berdiri atau mendapat omelan. Entah sudah berapa kali ustad dan pembimbingku memanggilku secara khusus. Namun permasalahan utamaku tak kunjung aku temui.

Malam itu, Ustad yang sering menangani kasus sepertiku kembali memanggilku untuk kesekian kalinya.

“Duduk,” ucap beliau mempersilahkan. Aku menarik kursi plastik dan duduk di hadapan beliau. Menunduk, tak kuasa aku mengangkat kepala.

“Sudah tau apa yang jadi masalahmu Zhil?” Lanjut beliau. Aku menggelengkan kepala.

“Belum Ustad.”

“Sudah berapa kali kamu dipanggil khusus kaya gini?” Aku menggeleng, bukannya tak tau, tapi malu mengakui karena sudah terlalu sering.

“Sekarang ada yang lagi ganggu pikiranmu?” Tanya beliau kembali, dan aku menggeleng lagi, memang tidak ada.

Beliau menghela nafas, tampak berfikir sejenak, “ada perempuan yang kamu suka?” Tanya beliau tiba- tiba, aku mendongak sebentar.

Ya!! Tya!!

Namun, kalimat itu tak mungkin aku lontarkan, aku terdiam dan mengangguk pelan.

Nah, Zhil. Saya tidak tau siapa wanita yang kamu sukai itu. Tapi sepertinya memang dialah yang menjadi penghambat dalam hafalanmu.  Saya tidak peduli jika kamu akan membela wanita itu. Tapi coba kamu bercermin. Kamu tau kan, seorang penghafal Qur’an itu, terlebih laki- laki,  harus bisa menjaga hati dan pandangan. Menjaga hati agar tetap bersih sehingga hafalan bisa lebih mudah masuk. Dan menjaga pandangan agar terhindar dari maksiat, di Al- Qur’an sudah dijelaskan kan? Nah, tapi saya juga gak bisa melarangmu untuk memiliki rasa terhadap seseorang Zhil. Tapi ada aturan mainnya. Tentunya bukan dengan cara pacaran. Sekarang tingal kamu yang memilih ingin mempertahankan hafalanmu atau melanjutkan hubunganmu.”.

Aku terdiam. Ya, memang akhir- akhir ini Tya- lah yang selalu berada dalam fikiranku. Setiap langkahku selalu terbayang wajah dan senyum manisnya. Saat aku ingin fokus, pasti tak sengaja aku melihat dirinya.

Ya! Sekarang memang akulah yang harus memilih. Ingin melanjutkan cita- citaku sebagai seorang  Hafidz Qur’an atau hancur dalam percintaan remaja yang memilukan. Jadi yang kulakukan, apakah melanjutkan hubungan yang terlanjur jauh ini, atau hancur karena keluguan diri sendiri??

Baca Juga ===>ANTARA AKU, KAU DAN AL-QUR’AN Bag. 02

241 views


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *