HUBUNGAN IMAN, ISLAM, DAN IHSAN

HUBUNGAN IMAN, ISLAM, DAN IHSAN KELAS VII MTsBerikut ini adalah materi tentang Hubungan Iman, Islam, dan Ihsan, yang diambil dari buku siswa Akidah Akhlak Pendekatan Saintifik Kurikulum 2013 Madrasah Tsanawiyah kelas kelas VII.

HUBUNGAN IMAN, ISLAM, DAN IHSAN

Ada tiga unsur pokok dalam akidah Islam yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Artinya, jika seseorang mengaku berakidah Islam atau lebih mudahnya dia mengaku sebagai muslim, maka harus ada tiga unsur pokok ini didalam dirinya, yaitu Islam, Iman, dan Ihsan. Ketiganya mempunyai hubungan yang sangat erat. Untuk mengetahui hubungannya, perlu diketahui terlebih dahulu pengertian ketiganya.

HUBUNGAN IMAN, ISLAM, DAN IHSAN KELAS

a. Islam

Kata Islam berasal dari bahasa Arab, yaitu أسلم-يسلم-إسلاما yang artinya adalah patuh, tunduk, menyerahkan diri, dan selamat.

Sedang menurut istilah, Islam yaitu agama yang mengajarkan agar manusia berserah diri dan tunduk sepenuhnya kepada Allah. Tunduk atau berserah diri adalah mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Orang yang tunduk dan berserah diri kepada Allah disebut Muslim.

b. Iman

Menurut bahasa iman berarti percaya. Sedangkan menurut istilah iman adalah:

الإيمان هو تصديق بالقلب وإقرار باللسان وعمل باالأركان

“Iman adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan dilaksanakan dengan anggota badan (perbuatan).”

Jika seseorang sudah mengimani seluruh ajaran Islam, maka orang tersebut sudah dapat dikatakan mukmin (orang yang beriman).

b. Ihsan

Ihsan berasal dari bahasa Arab: احسن-يحسن-إحسنا yang berarti kebaikan. 

Ihsan adalah perbuatan baik sebagai bentuk pengahambaan diri kepada Allah sebagai makhluk individu, yaitu hubungannya dengan Allah maupun sebagai makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan sesama.

Lebih lanjut disebutkan bahwa cara penghambaan diri ini harus senantiasa merasa melihat atau dilihat oleh Allah Swt sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi Saw “Jibril bertanya, ‘Kabarkanlah kepadaku tentang ihsan itu?’ Nabi menjawab:”Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu”. Dengan demikian berbuat baik kepada Allah maupun sesama harus dilakukan setiap saat karena ada kontrol langsung dari Allah Swt. Orang yang tealah menerapkan hal ini disebut dengan Muhsin.

Ketiga unsur pokok akidah islam diatas tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya, bahkan ketiganya berkumpul dalam satu hadis panjang yang diriwayatkan oleh sahabat Umar bin Khattab Ra sebagai berikut:

عَنْ عُمَرٍ بْنِ الخَطَّابِ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعَرِلَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاة وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلًا قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِيْمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ قَالَ مَا الْمَسْئَوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا قَالَ أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفُاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَة رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ قَالَ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا ثُمَّ قَالَ لِي يَا عُمَرُ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلُ قُلْتُ الله وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمْ قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُم

‘Umar bin Khattab berkata, ‘Dahulu kami pernah berada di sisi Rasulullah Saw, lalu datanglah seorang laki-laki yang bajunya sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan. Tidak seorangpun dari kami mengenalnya, hingga dia mendatangi Nabi Saw lalu menyandarkan lututnya pada lutut Nabi Saw, kemudian ia berkata, ‘Wahai Muhammad, kabarkanlah kepadaku tentang Islam? ‘Rasulullah Saw menjawab: “Kesaksian bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan puasa Ramadhan, serta haji ke Baitullah jika kamu mampu bepergian kepadanya. ‘Dia berkata, ‘Kamu benar. ‘Umar berkata, ‘Maka kami kaget terhadapnya karena dia menanyakan dan membenarkannya. ‘Dia bertanya lag, ‘Kabarkanlah kepadaku tentang iman itu? ‘Beliau menjawab: “Kamu beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Akhir, dan takdir baik dan buruk. “Dia berkata, ‘Kamu benar. ‘Dia bertanya, ‘Kabarkanlah kepadaku tentang ihsan itu? ‘Beliau menjawab: “Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu. “Dia bertanya lagi, ‘Kapankah Hari Akhir itu? ‘Beliau menjawab: “Tidaklah orang yang ditanya itu lebih mengetahui daripada orang yang bertanya. “Dia bertanya, ‘Lalu kabarkanlah kepadaku tentang tanda-tandanya? “Beliau menjawab: “Apabila seorang budak melahirkan (anak) tuannya, dan kamu melihat orang yang tidak beralas kaki, telanjang, miskin, pengembala kambing, namun bermegah-megahan dalam membangun bangunan.” Kemudian dia bertolak pergi. Maka aku tetap saja heran kemudian beliau berkata; Wahai Umar, apakah kamu tahu siapa penanya tersebut? “Aku menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu, ‘Beliau bersabda: “Itulah Jibril, dia mendatangi kalian untuk mengajarkan kepada kalian tentang pengetahuan agama kalian” (HR. Muslim) 

Dari paparan diatas, bisa kita tarik kesimpulan bahwa ketiganya tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya dalam menunjang akidah Islam. Iman sebagai bentuk keyakinan, Islam sebagai bentuk ibadah, dan Ihsan sebagai bentuk perbuatan baik kepada Allah maupu kepada sesama. Lebih dalam lagi bisa kita simpulkan bahwa seorang mukmin bisa membuktikan keimanannya dengan menunjukkan keislamannya dan keihsanannya dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa mendapatkan petunjuk dalam menjalankan akidah Islam secara utuh dan tanpa keraguan. Memiliki keimanan yang kuat dengan cara menampilkannya dalam bentuk menjalankan rukun Islam dengan benar dan memiliki keihsanan yang sempurna dalam kehidupan. Dan akhirnya, kita akan mendapatkan kebahagian hidup di dunia dan akhirat dalam naungan ridha-Nya.

Download Buku Paket DISINI

280 views


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *