KEWAJIBAN WALI ANAK

Alasan Syeh Salim bin Sumair al-Khadromi menjelaskan tanda-tanda baligh di awal pembahasan Fiqih karena tuntutan hukum atau taklif dibebankan atas orang baligh, bukan shobi (anak kecil laki-laki) atau shobiah (anak kecil perempuan). Namun, diwajibkan secara fardhu kifayah atas orang tua shobi atau shobiah, baik bapak atau ibu, untuk memerintahkan mereka berdua untuk melakukan shalat dan melakukan apa yang menjadi syarat sahnya shalat, seperti: wudhu dan selainnya, setelah mereka berdua genap berusia 7 tahun dengan syarat ketika mereka berdua telah tamyiz. Batasan tamyiz adalah ketika shobi dan shobiah dapat makan sendiri, minum sendiri, dan cebok atau istinja sendiri.

Dengan demikian tidak diwajibkan secara fardhu kifayah atas orang tua untuk memberikan perintah yang telah disebutkan diatas ketika shobi atau shobiah telah tamyiz aebelum berusia 7 tahun, tetapi disunnahkan memerintahkan mereka berdua.

Baca juga==>>Ceramah : Amalan Yang Di Cintai Allah SWT

Baca juga==>>Ceramah : BAHAYA FITNAH

Begitu juga, diwajibkan secara fardhu kifayah atas orang tua untuk memerintahkan shobi atau shobiah malakukan syariat-syariat dzhohir agama, seperti puasa rmadhan, ketika mereka berdua telah kuat atua mampu.

Dalam memberikan perintah kepada shobi atau shobiah, orang tua wajib menggunakan pernyataan perintah yang disertai menakut-nakuti, seperti: wali berkata kepada mereka berdua, “Shalatlah! Jika kalian tidak shalat maka aku akan memukul kalian berdua.”

Begitu juga diwajibkan atas orang tua untuk mengajari shobi dan shobiah tentang bahwa Rasulullah SAW dilahirkan dan diutus di Mekkah, wafat da di kuburkan di Madinah.

Orang tua juga wajib memukul shobi dan shobiah ketika mereka meninggalkan perintah (shalat, wudhu dan lain-lain) dengan pukulan yang tidak menyakiti pada saat mereka berdua telah berusia di tengah-tengah 10 tahun setelah genap usia 9 tahun karena memungkinkannya terjadinya baligh saat itu.

Bagi muallim atau guru didik diperbolehkan memberikan perintah shalat syariat-syariat dzohir dari agama kepada shobi dan shobiah, tetapi tidak boleh memukul mereka berdua ketika mereka meninggalkan perintah kecuali apabila dapat izin dari wali.

Seorang suami diperbolehkan memberi perintah shalat dan lain-lainnya kepada istri, tetapi suami tidak boleh memukul istri ketika istri meninggalkan perintahnya tersebut, kecuali apa bila suami telah mendapat izin dari wali.

Siwak adalah seperti shalat dalam segi hukum wajib secara fardhu kifayah atas orang tua untuk memerintahkan shobi dan shobiah untuk melakukannya dan memukul mereka ketika mereka meninggalkannya.

Hikmah dan memberi perintah dan memukul shobi dan shobiah di atas adalah agar mereka terlatih melakukan ibadah sehingga mereka akan terbiasa dan tidak meninggalkannya, Insyaallah Ta’ala.

(Ketahuilah!) Sesungguhnya diwajibkan atas para bapak dan ibu (mencakup kakek-nenek dan seatasnya) secara fardhu kifayah untuk mengajari anak-anak mereka tentang thoharah, shalat,ibadah-ibadah lain. Masalah biaya mengajari diambilkan dari harta anak-anak tersebut jika mereka memang memilikinya. Namun, apabila anak-anak tidak memiliki harta maka biaya mengajari diambilkan dari harta para bapak. Apabila para bapak tidak memiliki harta maka biaya mengajari anak-anak diambilkan dari harta para ibu. Apabila para ibu juga tidak memiliki harta maka biaya mengajari mereka diambikan dari baitul maal. Apabila baitul maal tidak ada biaya maka biaya mengajari mereka diambilkan dari harta para muslimin yang kaya.

61 views


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *