SERIBU TAHUN SEBELUM NABI MUHAMMAD SAW LAHIR

539 tahun sebelum nabi Isa As dilahirkan, seorang Tubba

( julukan bagi raja ) di Yaman, bernama As ad ( Abu Karb )

Alhimyary.

Dia termasuk salah seorang penguasa dunia terbesar pada zaman itu,

( selain kaisar Romawi, Kisra Faris dan Najasyi ).

Pada suatu hari, dia bermaksud mengelilingi semua negri kekuasaannya,

dia menyiapkan pasukan yang sangat besar, yang terdiri dari tentara

perang, penyair, cendikiawan dan para ulama’.

Dia didampingi salah seorang perdana mentrinya Amarisa,

konon kabarnya pasukan kudanya berjumlah 133.000, pasukan

biasa 113.000 dan 4000 orang yang terdiri dari ulama’ dan intelek.

Setiap negri yang didatangi menyambut dan mengagungkan dia

sebagaimana mestinya seorang raja, dan dia memilih 10 ulama’

dan intelek dari setiap negri untuk ikut serta dengannya.

Akhirnya dia dan para pengikutnya sampai di Mekkah, dan

tidak seperti negri sebelumnya, penduduk Mekkah tidak

menyambut kedatangannya bahkan tidak mengagungkannya

sama sekali.

Baca juga===>>> SEMPURNA SEBELUM TERCIPTA

Karena hal tersebut, dia merasa tersinggung dan marah.

Dia kemudian memanggil perdana mentrinya dan berkata:

Wahai Amarisa..! kenapa penduduk mekkah tidak 

menyambut dan tidak menghormati ku? apakah mereka

tidak merasa takut dengan pasukan yang aku bawa?

apa sebabnya sehingga mereka seperti itu?

Amarisa menjawab:

Paduka..! Mereka adalah orang arab yang bodoh, mereka

tidak mengerti apa-apa. Mereka bersujud kepada berhala 

dan menyembah kepada selain Allah.

Raja tertegun dan kembali bertanya:

Mereka sangat mengagungkan ka’bah?

Perdana mentrinya menjawab:

Betul paduka.

Kemudian raja menyuruh kepada semua pasukan untuk 

mendirikan kemah dan beristirahat, raja berfikir sendiri

tanpa bermusyawarah dengan perdana mentrinya, dia 

bermaksud menghancurkan Ka’bah dan mengganti

namanya menjadi Kharbah ( hina dan tidak diagungkan )

dan bermaksud membunuh semua kaum lelaki dan 

menjadikan perempuan dan anak-anak sebagai budak,

maka seketika itu juga kepala sang raja merasa pusing

dan sakit tak tertahankan, dari mata, telinga, hidung

dan mulutnya keluar nanah yang menjijikkan, tidak 

ada seorangpun yang sanggup menahan bau busuk tersebut,

spontan dia sadar dan memanggil perdana mentrinya dan

memerintahkan agar mengumpulkan para ulama’ dan thabib,

seketika mereka berkumpul tapi tidak seorangpun yang biasa 

mengobati, bahkan mereka tidak sanggup mendekat karena

bau yang timbul dari badan sang raja, kemudian raja berkata:

Semua thabib, ulama dan orang pintar sudah berkumpul,

tapi tidak seorangpun yang biasa memberikan solusi untuk 

menyembuhkan penyakitku?

Serentak mereka yang hadir menjawab:

Kami hanyalah manusia biasa yang biasa mengobati penyaki 

biasa, penyakit paduka adalah sesuatu yang langsung dari 

langit, dan kami tidak biasa menolak sesuatu yang turun

dari langit.”

Raja semakin panik dan semakin lama sakitnya betambah parah,

sampai malampun tiba dan orang-orang kembali ke kemahnya 

masing-masing.

Seorang ulama datang dan meminta izin kepada Amarisa untuk 

bertemu dengan raja dan menyampaikan langsung maksudnya

bahwa dia bersedia mengobati raja dengan syarat raja bersedia

menjawab pertanyaannya dan mau berterus terang.

Amarisa merasa sedikit gembira dan langsung menyampaikan 

maksud ulama tersebut kepada raja.

Rajapun merespon dengan baik permintaannya dan mempersilahkan

kepada ulama tersebut untuk menghadap.

Kemudian ulama itu meminta agar pembicaraanya tidak ada yang 

mendengar kecuali hanya dia dengan raja, raja menyuruh Amarisa 

keluar dan tinggallah mereka berdua.

Ulama bertanya: Apakah paduka pernah berniat sesuatu terhadap

Ka’bah?

Raja menjawab: Betul.

Ulama bertanya: Apakah paduka berniat menghancurkannya?

Raja juga meng iyakan pertanyaan tersebut.

Ulama tersebut langsung berkata: Bala’ dan penyakit yang 

paduka derita di sebabkan dari niat paduka tersebut, dan

ketahuilah bahwa yang memelihara Ka’bah adalah Dzat

yang maha Kuat dan maha Mengetahui segala rahasia,

paduka harus mencabut niat paduka untuk mengganggu

Ka’bah, maka paduka akan sembuh.

Raja berkata: Aku mencabut niat ku untuk mengganggu 

Ka’bah dan semua niat yang tidak baik, dan aku berniat 

untuk melakukan semua bentuk amal kebaikan.

Subhanallah…!

Belum kering bibir sang raja melafadkan niatnya, 

seketika semua penyakitnya sembuh, hilang tak

berbekas, spontan dia beriman kepada Allah SWT

dan memeluk agama nabi Ibrahim As seperti halnya

sebagian penduduk Mekkah.

Sebagai rasa syukurnya, dia menghadiahkan kiswah

( kelambu Ka’bah ) tujuh lapis yang terbuat dari

bermacam jenis sutra asli yang berwarna warni.

 

Sejarah mencatat, bahwa dialah orang pertama

yang mengelambui Ka’bah dia berwasiat atas

penjagaan dan pemeliharaan Ka’bah.

134 views


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *