SOLIDARITAS TINGKAT TINGGI

Namaku, Nadia Putri Trisnaningsih seorang santriwati di pondok pesantren NURUL JADID Desa Saptanajaya Kecamatan Duripoku Kabupaten Pasangkayu Provinsi Sulawesi Barat.

Aku akan sedikit bercerita tentang solidaritas kami sebagai santri . walaupun banyak hal-hal yang memperlihatkan tingginya kesolidaritasan kami sebagai seorang santri. Aku akan mengambil satu cerita dari seoran santri wati yang tidak terlalu mencolok dari santri lain.

Namanya Nanda Dwi Wahyuni, dia adalah santri wati yang memiliki badan terkecil diantara teman-temanya. Dia selalu dianggap paling adik . walaupun terlihat kecil dan lemah, namun bisa di bilang dia tidak sering sakit parah , mungkin hanya sebatas demam.

Dimana nanda? Tumben tidak ada di musollah ,”tanyaku suatu hari kepada salah seorang santri.            

“sakit al ukh” jawabnya, lalu kembali melanjutkan ngajinya. Saat itu aku hanya bisa ber-ohh ria. Karena kupikir sakitnya hanya demam biasa

Berapa jam setelah itu aku sedang mengobrol bersama santriwati lain, bercanda seperti biasanya       

“nanda tadi digendong lho pergi ke jeding, kagetka juga liat” ucap Nadir Kaka Nanda yang sedang mengikuti  program tahfidzul  quran. Sedangkan nanda, adalah santri formal biasa.

“iyo di’? sakit apa I gha ?” tanyaku logat yang kami pakai adalah logat mandar , khas Sulawesi barat

“Panas ji setauku” jawabanya . aku sempat berfikir tidak tidak mungkin panas biasa sampai tidak bisa berjalan.

Waktu terus bergulir. Kesokan harinya, aku memasuki salah satu kamar santriwati yang berisi rata – rata santriwati yang bergelar Preman Asrama (Sebutan santri yang susah di atur dan bergaya urakan, tetapi tetap rajin shalat dan belajar, hehehehe) . aku terkejut sejenak. “Kenapa nanda bisa disini?” batinku                                                    

Saat itu aku melihat nanda sedang tertidur lelap diatas kasur lantai milik Preman Asrama yang bisa di tempati dua orang sekaligus . di samping Kasurnya, ketua kamarnya ikut pula tertidur di atas lantai yang dingin dan sang pemilik kasur yang asli, tidur di dekat pintu tanpa alas apapun .

Aku keluar dari kamar itu,lalu masuk kekamar nanda yang asli aku melihat nadhir sedang melipatkan  baju adeknya

“kenapa nanda tidur dikamar 3?” tanyaku

“di sana memang I,” timpal seorang santri penghuni kamar tersebut

“ya kenapa makanya,” tanyaku meminta penjelasan yang lebih detail.

“ada orang sakit juga disini,” jawab nadhir

Aku ikuti arah pandang nadhir, dan ya, memang ada teman sekelas nanda yang sedang terbaring lemah di kasur lantainya.

Aku memilih keluar ,dan pergi ke jedding untuk mengambil wudhu.Tidak lama kemudian ,aku melihat nanda sedang di gendong oleh seorang santriwati tahfizul qur`an menuju jedding

“kok digendong?” tanyaku kepadanya

“cacar api I al`ukh ,nda kuat I jalan” Jawab seorang santri, menunjuk  kearah kaki nanda yang memiliki lebih dari lima bentolan bentilan putih.

“Ya AllAH” Ucap ku mengasihani

“kenapa di bawa ke jading?”  tambah parah cacar kalau kena air, “kasi tayammum saja” ujar         seorang pengurus

“Mau kencing I al`ukh” jawab ketua kamar di kamar yang di tempati Nanda. aku hanya bisa memandang dengan kasihan untung dia memiliki beban yang kecil,sehingga mudah untuk di gendong.

Nanda sedang digendong oleh seorang santriwati yang memiliki watak seperti preman, keras kepala dan lumayan susah untuk diatur. Saat itu, air jeding sedang sedikit, sehingga menyulitkan Nanda untuk mengambil air, karena badannya yang kecil. Aku membantu Nanda mengambil air, gayung per gayung kuberikan kepadanya. Setelah selesai, aku melihatnya kembali kekamar dengan digendong oleh santriwati yang memiliki watak preman tersebut. Nanda sangat kesulitan untuk berjalan, bahkan sholat saja, harus  dengan duduk.

Aku tersenyum, jika menyangkut teman dan saling membantu, kami solidaritasnya yang paling tinggi. Bahkan , seseorang yang memiliki watak preman pun bisa berhati layaknya malaikat.

Tempaan Proses belajar yang penuh Disiplin dan Kesederhanaan telah membuat kami memiliki kepekaan dan rasa Solidaritas yang Tinggi

Aku bahkan berfikir,

“bagaimana diriku jika tanpa mondok?”

“Setiap yang kita kerjakan disini adalah pendidikan”

“Bahkan makan dan minum pun adalah pendidikan disini”

“Bagaimana cara makan dan minum yang benar dan sesuai dengan sunnah rasul”

“Aku bangga menjadi santri”

Baca Juga ===> JERITAN HATI SEORANG ANAK

Di Tulis Oleh : Nadia Putri Trisnaningsih

179 views
TAG


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *