SUTRIANA : PERJUANGANKU MENJADI SANTRI YANG BAIK DAN CITA-CITA MENJADI TAHFIDZUL QUR’AN

“Semangat dan Tekat yang kuat

akan menjadi alasan untuk santri tetap istiqomah belajar

bahkan akan tahan terhadap ujian sekalipun”

Dari awal kedatangannya di pondok dia memang sudah terlihat ceria, tidak tampak paksaan dalam dirinya..

Dia adalah Sutriana berasal dari Dapurang datang ke pondok pesantren ingin merasakan bagaimana hidup dan berjuang di pondok pesantren.

Dari tekatnya itu terlihat tidak akan ada keluhan untuknya dalam menjalankan aktivitas sebagai santri.

Namun dia tidak pernah menduga kalau segala kebutuhannya akan di urusi sendiri. Dirumah tentu pakaian sudah di siapkan ibunda di dalam lemari. kalau kotor, ibunda selalu siap mencucinya kembali dengan penuh kasih sayang.

Belum lagi kalau makan tinggal makan dan selsai makan biasa ibunda yang membereskan semuanya.

Sutri yang baru lulus SD itu tentu belum terbiasa mengurusi kebutuhannya sendiri.

Dalam diamnya dia bergumam dalam hati, “Saya baru tau, ternyata di pesantren itu kita harus mandiri. Cuci baju sendiri, cuci rantang makanan sendiri. Jika kita tidak mau mencuci baju maka bajunya akan habis, dan kalau kita tidak mau mencuci rantang maka kita tidak dapat makan. Hmmm”.

Sungguh hal tersebut sangat aneh bagi dirinya, segala sesuatu harus dia lakukan sendiri, hingga tidak dapat makan jika tidak mencuci rantangnya sendiri.

Memang begitulah kejadian di kebanyakan pesantren, semua itu tentu agar para santri bisa mandiri dalam mengurusi kebutuhan pribadi mereka.

Baca Juga ==> Kisah Untuk Pencari Ilmu 

=========> Anak Yang Mati Rasa

Itulah pendidikan di pesantren, dididik dan diajar ilmu pengetahuan. Dididik agar berakhlak dan di isi dengan ilmu pengetahuan agar hidupnya terarah dan mengerti tentang kebaikan dan keburukan.

Walaupun demikian blum terlihat ada keluhan dalam dirinya, justru Sutri bertekad pada dirinya sendiri, dan berkata: “Jadi mulai sekarang saya mau berubah menjadi anak yang rajin, dan saya mau berusaha supaya saya bisa menghafal Al-Qur’an 30 juz, agar saya bisa menolong kedua orang tuaku supaya masuk Syurga bersama-sama..Aamiin” ucapnya..

Santri dan orang tua yang semangat akan dimudahkan dan di beri solusi atas kesulitan yang di alaminya, akan selalu ada motivasi dan kekuatan buat mereka untuk selalu semangat..

“Barang siapa yang hafal Al-Qur’an 30 juz maka dia bisa menolong keluarganya yg sudah di vonis masuk neraka untuk masuk Syurga bersamanya”

“Para penghafal Al-Qur’an nanti di akhirat akan memasangkan mahkota kepada orang tuanya, sebagai kebanggaan di akhirat”

Begitulah kata pak kiyai yang selalu terngiang di telinga para santri hingga terkadang banyak santri yang tertarik untuk menghafal Qur’an.

“Ayah, ibu do’akanlah aku agar selalu bisa menjadi anak yang berbakti kepada ayah dan ibu, aku berjanji akan berusaha mencarikan mahkota itu untuk kalian, dan semoga segala keinginan dan cita-citaku tercapai. Aaminn Ya Allah..” begitulah do’anya sebelum dia beranjak untuk belajar dikelas..

Oleh : Sutriana (Santri Pondok Pesantren Nurul Jadid Duripoku Pasangkayu Sulbar)

Editor : Syaufan Azizi

244 views


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *