SYARAT MENCARI ILMU

ٍاَلاَ لاَتَنَالُ الْعِلْمَ اِلاَّ بِسِتَّةٍ # سَأُنْبِيْكَ عَنْ مَجْمُوْعِهَا بِبَيَان

ٍذُكَاءٍ  وَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍ وَبُلْغَةٍ # وَارْشَادِ أُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَان

“Ingatlah, kalian tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan 6 syarat # akan disebutkan sampai jelas”

“yaitu cerdas ( berakal sehat ), semangat, sabar, ada biaya, petunjuk guru dan waktu yang lama”

Penjelasan :

Sejak kita terlahir ke alam dunia ini, kita tidak mempunyai bekal apapun kecuali hanya isakan tangis saja. Seiring dengan berputarnya waktu dari proses apa yang kita dengar dan lihat di sekitar lingkungan tempat tinggal mengalami berbagai macam kejadian dan fenomena. Dari hal tersebut kita mencoba memikirkan dan mencari tahu penyebab atau kepana hal itu bisa terjadi inilah pengertian sederhana ilmu.

Kewajiban untuk mencari ilmu telah jelas sebagaimana hadist Nabi SAW bahwasanya mencari ilmu itu wajib bagi semua orang mulai ia dilahirkan sampai masuk ke liang lahat. Itu artinya selama manusia masih diberi kekuatan untuk bernafas selama itu pula kewajiban kita dalam menuntut ilmu tak pernah lepas mengikat. Semakin kita berilmu maka semakin kita merasakan bahwa masih banyak ilmu yang belum dipelajari, hal ini menegaskan sangat disayangkan bagi seorang manusia yang sudah diberi akal namun tidak memanfaatkannya untuk mencari ilmu. Jika yang terjadi seperti itu lalu apa bedanya dengan binatang.

Baca juga==>>PENTINGNYA SANAD DALAM ILMU

Tentunya ilmu yang kita cari adalah ilmu yang bermanfaat, ilmu yang dengan ilmu itu menjadikan kita dekat kepada Allah SWT ( tunduk pada aturan ) dan semakin merasakan kehinaan dalam diri seorang hamba, bukan malah menjadikan diri sombong dan berbuat semena-mena.

Dalam menggapai ilmu yang bermanfaat sebagaimana syair diatas ada tuntutan yang harus dipenuhi ( syarat ) jika ingin meraih ilmu yang didambakan, syarat-syarat tersebut ada 6:

1. Cerdas (ذكاء) artinya memiliki kemampuan untuk menangkap ilmu, bukan berarti IQ harus tinggi,walaupun dalam mencari ilmu IQ yang tinggi sangat menentukan sekali, asal akalnya mampu menangkap ilmu maka berarti sudah memenuhi syarat pertama ini, berbeda dengan orang gila atau orang yang idiot yang memang akalnya sudah tidak bisa menerima ilmu maka sulit mereka mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

Namun perlu diingat bahwa kecerdasan bukan sesuatu yang tidak bisa meningkat, sebagaimana ungkapan ” akal laksana pedang ” semakin sering diasah dan dipergunakan maka pedang akan semakin mengkilat dan tajam, adapun apabila didiamkan maka akan karatan dan tumpul. Begitu pula akal kita semakin sering dibuat untuk berfikir mengaji maka akal kita akan semakin tajam daya tangkapnya dan bila dibiarkan maka tumpul tidak akan mampu menerima ilmu apapun juga. Dari hal ini juga bisa dipahami jangan merendahkan orang lain yang kemampuan menyerap ilmunya lebih rendah dari kita, sebaliknya sikap peduli dan membantu teman adalah hal yang seharusnya dilakukan. Karena bisa saja dikemudian hari seseorang itu malah lebih unggul dari kita.

2. Semangat (حرص) artinya sungguh-sungguh dengan bukti ketekunan, mencari ilmu tanpa kesemangatan dan ketekunan tidak akan menghasilkan apa-apa. Terlebih ilmu agama merupakan ilmu yang mulia dan ilmu itu juga menjadi kebutuhan individu bagi umat islam dalam melaksanakan segala syariat. Sehingga banyak orang yang mencari tetapi apabila tidak diiringi dengan semangat maka ilmu yang didambakan akan sulit untuk digapainya.

Contoh sederhana, apa yang kemarin dihafalkan belum tentu sekarang masih bisa hafal/tahu, padahal apa yang dihafal/tahu kemarin masih berhubungan dengan pelajaran hari ini, akhirnya pelajaran hari ini pun berantakan karena hilangnya pelajaran kemarin ( mengulang pelajaran yang sudah disampaikan ), maka tanpa kesemangatan dan ketekunan sangat sulit kita mendapatkan apa yang seharusnya kita dapatkan dalam menuntut ilmu.

3. Sabar (صطبار) artinya tabah menghadapi cobaan dan ujian dalam mencari ilmu. Orang yang mencari ilmu adalah orang yang mencari jalan lurus menuju pencipta-Nya. Oleh karena itu, syetan sangat membenci dan senantiasa mengganggu pada pencari ilmu, karena dengan tidak ada orang yang mengajak kepada kebaikan dan menjauhi maksiat (Amr ma’ruf nahimunkar), maka nantinya semakin banyak umat islam yang terbujuk dengan rayuan syetan yang menyesatkan. Hal ini terbukti dengan memakai lama waktu yang sama. Dalam melakukan ibadah seperti shalat, mengaji dll akan terasa lama dan berat dilakukan sementara kegiatan yang diluar ibadah akan terasa singkat dan menimbulkan kenyamanan.

4. Biaya (بلغة) artinya orang yang menuntut ilmu memang perlu biaya seperti juga setiap manusia hidup yang memerlukannya. tapi jangan dipahami harus punya uang apalagi uang yang banyak. Biaya disini mencakup kebutuhan kita makan minum sandang papan secukupnya dan biaya tempat dimana kita menimba ilmu.

5. Petunjuk guru (ارشاد أستاذ) artinya orang yang menuntut ilmu harus mempunyai guru, karena dengan mempunyai guru akan terbebas dari kesalahan penafsiran. Seyogyanya dalam mempelajari ilmu agama mempunyai sanad (pertalian murid dan guru), andai tidak ada sanad maka orang yang berkata (tentang agama) sekehendak hatinya.

Kita bisa melihat sejarah penurunan wahyu dan penyampaiannya kepada para sahabat, betapa Nabi setiap bulan puasa menyimakkan Al-Qur’an kepada malaikat jibril dan sebaliknya, kemudian Nabi menyampaikan kepada para sahabat, sahabat menyampaikan kepada para tabi’in, lalu para tabi’in menyampaikan pada tabi’i at-tabi’in dan seterusnya kepada ulama salaf, lalu ulama kholaf, lalu ulama mutaqoddimin lalu ulama muta’akhirin dan seterusnya sampai pada umat sekarang ini, jadi ilmu yang kita terima sekarang ini adalah ilmu yang bersambung sampai kepada Nabi dan sampai kepada Allah SWT, jadi sangat jelas sekali bahwa orang yang belajar harus lewat bimbingan seorang guru. Guru yang bisa menunjukkan apa yang dikehendaki oleh sebuah peryataan dalam sebuah ayat atau hadist atau ibarat kitab salaf, karena tidak semua yang tersurat mencerminkan apa yang tersirat dalam pernyataan.

Dari hal sudah dipaparkan diatas tidak berarti menutup kemungkinan untuk belajar sendiri hanya saja di era globalisasi yang semakin banyak informasi yang malang melintang kita dituntut untuk jangan terburu-buru mengambil kesimpilan sebelum mengecek informasi itu. Ironis memang jika ada sebagian yang bermodal mencari info mbah google beberapa menit namun langsung berani memberikan fatwa.

6. Lama (طول زمان) artinya orang belajar perlu waktu yang lama dan mempunyai target, karena tanpa target akan hampa dan masalah kita belajar. Setelah kita menggapai apa yang kita targetkan pun tak lantas berhenti. karena semakin banyak ilmu yang dipahami maka akan lebih banyak ilmu yang belum dipahami, itu artinya tidak ada kata berhenti belajar selama hayat masih dikandung badan.

Dalam menjalankan 6 syarat diatas, jangan lupa ketika kita menuntut ilmu untuk menghadirkan niat sewaktu belajar, sebab niat itu merupakan pokok dalam segala perbuatan. Sebagaimana hadist Nabi “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya”. Niat juga berpengaruh pada amal yang akan dilakukan karena berdasarkan hadist nabi disebutkan “Banyak amal perbuatan yang bentuknya duniawi, kemudian menjadi amal ukhrowi karena bagus niatnya, dan tidak sedikit amal perbuatan yang bentuknya amal perbuatan ukhrowi, kemudian menjadi amal perbuatan duniawi sebab buruknya niatnya”.

 

80 views


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *