TATA CARA PUASA RAMADHAN

Saudara dan saudariku se iman dan se islam,

sebagai bentuk antusias kita menyambut datangnya bulan suci ramadhan maka pada kesempatan kali ini kita akan membahas bagaimana tata cara puasa ramadhan.

Kami yakin sudah banyak diantara kita yang sudah mengetahui dan memahaminya, tapi juga tidak menutup kemungkinan diluar sana masih banyak dari saudara dan saudari kita yang belum tahu, atau sudah tahu tapi lupa atau bahkan mungkin masih merasa kebingungan dengan tata cara melaksanakan puasa ramadhan.

Dalam melaksanakan puasa ramadhan yang perlu kita perhatikan adalah rukun-rukunnya, yang mana rukun-rukun puasa itu ada empat, baik itu adalah puasa sunnah atau puasa wajib.

Ke empat rukun tersebut adalah :

  1. Niat
  2. Menahan diri dari makan dan minum,
  3. Menahan diri dari jima’ (berhubungan badan)
  4. Menahan diri dari sengaja muntah-muntah.
  5. Sebagaimana disebutkan oleh Syekh Abu Syuja’ dalam kitab Taqrib sebagai berikut :

وفرائض الصوم أربعة أشياء النية والإمساك عن الأكل والشرب والجماع وتعمد القيئ

Rukun/fardhu-fardhunya puasa itu ada empat hal, Niat, menahan diri dari makan dan minum, jimak (berhubungan badan), dan sengaja muntah-muntah.

Baca juga==>>>Khutbah : Persiapan Rohani Menyambut Ramadhan

=========>>Khutbah Jumat Singkat: Proses menjadi orang yang bertaqwa

Pertama, Niat.

Niat secara bahasa adalah menyengaja. Secara istilah Imam Mawardi dalam kitab Al-Mantsur fil Qawa’id mengatakan,

Niat adalah bermaksud melakukan sesuatu disertai dengan pelaksanaannya. Sedangkan Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ mengartikannya sebagai “Tekad hati untuk melakukan amalan fardhu atau yang lainnya.”

Adapun fungsi niat sebagai berikut :

  • Untuk membedakan antara satu ibadah dengan ibadah yang lain, seperti untuk membedakan antara shalat dan puasa, wudhu dan mandi wajib.
  • Untuk membedakan tingkatan ibadah, mana ibadah yang hukumnya wajib dan mana ibadahnya yang hukumnya sunnah, seperti untuk membedakan antara shalat fardhu dengan shalat sunnah, puasa wajib dan puasa sunnah.
  • Untuk membedakan antara ibadah dengan kebiasaan, seperti untuk membedakan antara duduk iktikaf dan duduk untuk sekedar ngadem di masjid.
  • Untuk membedakan tujuan dalam ibadah, apakah seseorang ibadah karena Allah atau untuk mendapat pujian dari orang lain.

Para ulama sepakat bahwa niat merupakan syarat sah (rukun) ibadah, termasuk puasa. Artinya, sebuah ibadah tidak dianggap sah dan berpahala manakala tidak disertai niat. Karenanya, para ulama memberikan perhatian besar terhadap perkara niat ini. Bahkan, Imam Syafi’I, Ahmad, Ibnu Mahdi, Ibnu al-Madini, Abu Dawud dan Daruquthni menuturkan bahwa niat adalah sepertiga ilmu.

Ulama mazhab empat sepakat bahwa puasa Ramadhan wajib di mulai dengan niat, hanya saja ada permasalahan yang sering menjadi perbincangan dikalangan para ulama, yaitu waktu pelaksanaan niat dan hukum memperbaharui niat.

Waktu pelaksanaan niat puasa ramadhan

  • Imam Syafi’I, Malik, Ahmad bin Hambal dan para pengikutnya menyatakan bahwa niat puasa harus dilakukan dimalam hari, yaitu antara terbenamnya matahari sampai terbitnya fajar. Mereka menggunakan dalil hadits nabi Saw :

من لم يبيت الصيام قبل الفجر فلا صيام له

“Barang siapa tidak berniat di malam hari sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Baihaqi dan Daruquthni)

  • Abu Hanifah dan para pengikutnya mengatakan bahwa niat puasa dapat dilakukan mulai terbenamnya matahari sampai pertengahan siang. Atrinya tidak wajib melakukan niat di malam hari. Mereka berpedoman pada firman Allah surat al-Baqarah ayat 187 :

أحل لكم ليلة الصيام الرفث إلى نسائكم هن لباس لكم وأنتم لباس لهن علم الله أنكم كنتم تختانو

أنفسكم فتاب عليكم وعفا عنكم فالآن باشروهن  وابتغوا ما كتب الله لكم وكلوا واشربوا حتى

يتبين لكم الخيط الأبيض من من الخيط الأسود من الفجر ثم أتموا الصيام إلى اليل

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk mu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.

Pada ayat tersebut, Allah memperbolehkan kaum mukminin untuk makan, minum, dan bersenggama pada malam bulan ramadhan sampai terbit fajar. Lalu setelah terbit fajar, Allah memerintahkannya berpuasa, dimulai dengan niat terlebih dahulu. Dengan demikian, niat puasa tersebut terjadi setelah fajar. Sehingga dapat disimpulkan bahwa niat puasa boleh dilakukan setelah terbit fajar, tidak harus dimalam hari.

Adapun lafadz niat puasa ramadhan sebagai berikut :

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ للهِ تَعَالىَ

“Saya niat puasa besok untuk menunaikan fardhunya Ramadhan tahun ini karena Allah.”

Hukum memperbaharui niat puasa Ramadhan

  • Imam Syafi’I, Hanafi, dan Hambali mewajibkan untuk memperbaharui niat atau melakukan niat puasa setiap hari. Mereka beralasan bahwa hari-hari dalam bulan Ramadhan itu bersifat mandiri dan tidak saling berkaitan antara satu dengan yang lain. Batalnya satu hari puasa tidak berpengaruh pada batalnya hari yang lain. Karenanya, setiap akan memasuki hari baru diperlukan niat baru.
  • Imam Malik dan para pengikutnya tidak mensyaratkan pengulangan niat setiap hari. Bagi mereka, niat puasa Ramadhan cukup dilakukan di malam hari pertama bulan Ramadhan. Mereka beralasan, puasa Ramadhan wajib dilakukan terus menerus, sehingga hukumnya sama seperti satu ibadah. Dan satu ibadah hanya membutuhkan satu niat. (Lihat : Muhammad Ramadhan al-Buthi, Muhadharat fil Fiqhil Muqaran, Damaskus : Darul Fikr, 1981, halaman 28-34)

Untuk berjaga-jaga agar puasa tetap sah ketika suatu saat lupa niat, sebaiknya pada hari pertama bulan Ramadhan berniat taqlid (mengikut) pada Imam Malik yang memperbolehkan niat puasa Ramadhan hanya pada permulaan saja. contoh lafadz niatnya sebagai berikut :

 نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيْعِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ تَقْلِيْدًا لِلْإِمَامِ مَالِكٍ فَرْضًا للهِ تَعَالَى

“Aku niat berpuasa di sepanjang bulan Ramadhan tahun ini dengan mengikut Imam Malik, fardhu karena Allah.”

2,3 & 4 Menahan Diri dari Hal Yang Membatalkan Puasa

  • Menahan diri dari makan dan minum

Meskipun makanan yang dimakan atau minuman yang diminum hanya sedikit, tetap tidak boleh dan dapat membatalkan puasa. Namun jika orang yang berpuasa tersebut makan atau minum dengan tidak sengaja, lupa atau dia tidak tahu bahwa makan dan minum adalah perkara yang membatalkan puasa entah karena ia baru masuk Islam, atau ia hidup di daerah yang jauh dari ulama’ yang mengajarkan hukum Islam, maka puasanya tidak batal.

  • Menahan diri dari jimak (berhubungan badan)

Berhubungan badan yang dilakukan dengan sengaja meskipun tidak sampai mengeluarkan mani menyebabkan batalnya puasa. Dan ia harus membayar kafarat atau denda sebagai balasan atas apa yang ia lakukan. Yaitu memerdekakan budah mukminah atau puasa dua bulan berturut-turut atau jika tidak mampu melaksanakan hukuman pertama atau kedua maka ia harus memberi makan 60 orang miskin, masing-masing satu mud (kira-kira 3/4 liter). Namun, jika ia tidak sengaja, maka hukumnya seperti orang yang lupa makan di waktu puasa, yakni puasanya tidak batal.

Adapun masalah junub (keluarnya sperma) selama puasa dapat membatalkan puasa, jika dilakukan dengan sengaja. Jika karena tertidur lalu bermimpi sampai keluar sperma, maka tidak batal. Sama dengan bersetubuh dimalam hari namun mandinya baru dilakukan sesudah subuh, maka tidak membatalkan puasa.

  • Menahan diri dari sengaja muntah 

Sengaja muntah-muntah saat puasa dapat membatalkan puasa, seperti dia memasukkan jari-jarinya kedalam tenggorokannya lalu muntah. Tapi, jika dia tidak tahan lagi ingin dan tanpa unsur kesengajaan dia mengeluarkan muntah, maka puasanya tidak batal.

Perkara yang sekiranya sangat penting untuk dihindari saat puasa adalah berkata kotor/keji, hal ini memang tidak membatalkan puasa, namun membatalkan pahala puasa. Yang pada hakikatnya sama saja dengan orang yang batal dzohir puasanya, karena jika pahala puasa batal orang hanya akan mendapatkan lapar dan dahaga tanpa adanya pahala.

Semoga dengan adanya penjelasan yang singkat ini dapat meningkatkan kualitas puasa kita, serta dapat menjaga puasa kita dari hal-hal yang dapat merusaknya. Sehingga, saat kita puasa tidak hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga saja.

306 views


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *